Jumat, 02 Juli 2021

Berjuang menjadi rembulan purnama

Aku diberi 70000 orang masuk syurga tanpa hisab, wajah mereka bak bulan purnama, hati mereka satu. Aku minta tambahan pada Robbku 'Azza wa Jalla. DIA tambah 70000 untuk tiap satunya.

(Hadits #664 Imam Ahmad dari sanad beliau hingga Abu Bakar AshShidiq ra)

*

DIA SWT adalah Cahaya Langit dan Bumi.

Untuk bumi, DIA tampakkan berjuta bintang, Matahari, Bulan, dan kawakib, planet.


Yusuf as mimpi matahari, bulan, planet sujud padanya.

Ya'kub as menafsirkan itu adalah dia, ibu Yusuf, dan saudara-saudaranya.


Sungguh, pada waktu itu memang Ya'kub as adalah matahariNya.

Pesan-pesan Ya'kub as yang diperoleh dariNya menyinari masyarakatnya.


Ketika Yusuf as menjadi pembagi gandum 7 tahun untuk rakyat Mesir dan sekitarnya, terang cahaya Mentari Ya'kub itu pindah padanya.


Demikianlah.

Terang matahariNya itu berpindah dari RosulNya yang satu ke RosulNya yang Terakhir,

Kanjeng Nabi Muhammad saaw.


*

Rembulan, tidak punya cahayanya sendiri.

Ia talahhay memantulkan sinar mentari untuk menyinari penduduk bumi ketika tak nampak matahari.

Dari hilal tanggal 1, perlahan makin sempurna pantulannya, hingga sempurna saat bulan purnama.


Yusuf kecil adalah hilal untuk sinar mentari Ya'kub. 

Kecemplung sumur, belajar di perpustakaan keluarga Zulaikha, di penjara, makin menyempurnakan cahayanya.

Sinar bulan purnamanya, awal sinar mataharinya mulai nampak ketika selebritis Mesir tanpa sadar memotong jarinya terposona keindahannya.


*

DIA SWT itu Dzu mirroh punya cermin.

Tiap ciptaanNya adalah cermin Asmau lHusnaNya.


Mbah buyut Yusuf dulu, Ibrahim as, pernah terpesona pada terang sinar planet, rembulan dan matahari. Dan terang cahaya  beliau sendiri itu yang akhirnya bersinar layaknya planet, bulan dan mentari.

"Matahari" Ibrahim as bersinar terang saat dibakar Namrudz.

Juga saat harus mengorbankan Ismail putranya.


*


Sebelum lahir, sama sekali tiada cahaya pada kita.

Sejak lahir, kita adalah satu di antara cermin Asma'u lHusnaNya.

Dengan memahami satu demi satu ciptaanNya, cahaya kita makin sempurna.

Dengan wudlu demi wudlu dengan air suci yang menyucikan, dan sholat demi sholat yang bertasbih memuji KebesaranNya, KeagunganNya dan KeindahanNya,

cahaya batin makin sempurna.

Dari cahaya bintang, membesar ke planet, membesar ke rembulan,

sejak hilal hingga purnama.


Dan karena Kanjeng Nabi Muhammad saaw adalah MatahariNya Yang Terakhir, maka status tertinggi cahaya umatnya adalah terang cahaya bulan purnama.

Tidak lebih.

Hanya memantulkan Cahaya Sempurna Matahari RosulNya yang terakhir.

Kanjeng Nabi Muhammad saaw.


Alloohumma sholli wa sallim wa baarik 'alaa Sydn Muhammad wa'alaa Aal Sydn Muhammad.

Salut, salam, dan keberkahan untuk Kanjeng Nabi Muhammad dan seluruh keluarga beliau, sejak Adam as hingga umatnya yang terakhir.


Wa lLoohu a'lam

Bandung, 21 Selo 1442H

alfaqir

Jumat, 25 Juni 2021

4 manfaat Kecoa (Coro)

 Tafakur Jumat


"Di antara pepohonan, ada pohon yang menjadi model muslim."

Aku (Ibnu Umar) ingin katakan, pohon kurma.

Aku, anak kecil di riungan itu, menunggu, diam.

Nabi saw melanjutkan, "Ia itu pohon kurma".

(HR Imam Ahmad, dari sanad beliau hingga Ibnu Umar)


Di Arab pohon kurma.

Di sini pohon kelapa.

Dengan akar serabut yang nyokot kuat di tanah, pohon kelapa lurus ke atas.

Berbuah tiap saat.

Pohonnya

blaraknya, janurnya, dicari.

buahnya, yang muda, tua,  dicari.

Air kelapanya, air niranya (bahan legen), menyegarkan.

Air nira digodhog terus jadi gula merah.

Parutan kelapa, untuk bahan pelas, bothok, urap.

Santannya, untuk lodeh, dan macam2 sayur lain.

Parutan kelapa + juruh gula merah + olahan ketela rebus  bisa jadi :

Kicak, cenil, gethuk, dll.


Kelapa ini dijadikan simbol gerakan pramuka.

Tidak hanya pramuka,

Nabi saaw menginginkan tiap umatnya, punya manfaat di masyarakat sekitar.

"Berkah Alloh untuk masyarakat, di manapun aku berada", dhawuh Sayidina 'Isa as ( aw ka maa qoola ).


*


Para filosof lingkungan mutakhir (di video ngaji filsafat Ustadz Fahruddin Faiz) menemukan, bahwa tidak hanya setiap tanaman dan hewan punya peran dalam suatu ekosistem, bahkan tanah, air, udara, bangunan2 di situ saling punya peran untuk membuat ekosistem yang indah dan nyaman.

Perlu menjaga kelangsungan hidup semuanya agar harmoni tetap terjaga.


*


Tersadar dari pelajaran beliau, nyoba nyari apa manfaat kecoa.

Browsing, nemu 4 manfaat kecoa.

Dia itu makanan katak dan binatang lain, di rantai makanan.

Kotoran kecoa, bermanfaat sebagai pupuk organik tanaman.

Mempelajari kakinya yang kokoh, ahli kesehatan membuat kaki tiruan untuk manusia.

Bisa hidup di lingkungan seputar kamar mandi, 

ternyata di kepala kecoa ditemukan 9 molekul antibiotik yang lebih kuat dari amoxylin.


Robbanaa maa kholaqTa haadzaa baathilaa

Yaa Robb, tidak sia-sia Kau cipta kecoa.


Adalah tantangan, untuk mencari manfaat setiap ciptaan.

Agar ketika melafazhkan Alhamdu lilLaahi Robbi l'aalamiin makin berkesan.


Wa lLoohu a'lam

Bandung, 14 Selo 1442H

alfaqir

Kamis, 17 Juni 2021

MEMIMPIN, TERUS PERLUAS ILMUMU, MEMONETIZENYA, DAN BERBAGILAH

 Tafakur Jumat


Kullukum roo'in, wa kullukum mas'uulunn 'an roo'iyatihi.

Tiap kalian pemimpin,

dan akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya.

(HR Imam Ahmad dari sanad beliau hingga Ibnu Umar ra)


Sejak baligh,

anggota badanmu adalah 'rakyatmu'.


Sejak berumah tangga,

'rakyatmu' bertambah.

Istri, anak-anak,

tabungan,

kendaraan,

bisnis,

rumah, 

taman.


Jika berhasil memimpin keluarga, 

mungkin masyarakat memilihmu jadi Pak RT.

Jika sukses, 

bisa naik terus ke wilayah lebih luas, 

RW, dst ke atas.


Tholut (Saul) dipilih memimpin Bani Isroil karena dua hal :

punya ilmu dan punya kekuatan (jasmani) untuk menjalankan ilmunya.

Di bawah bimbingan Nabi masa itu, 

Nabi Samuel.

Yang tahu isi Taurat.


Menjadi pemimpin, (setidaknya di keluarga) perlu syarat itu:

terus memperluas ilmu,

terus memperkuat kemampuan menjalankan ilmu itu,

di bawah bimbingan petunjuk pesan Kitab Suci dan pesan para Nabi.


Tidak hanya quw anfusakum wa ahlikum naaroo

menjaga diri & keluarga terhindar dari neraka.

Namun lebih dari itu,

mampu membina anak-anak mencintai orang-orang yang besar jasanya bagi umat manusia,

mencintai para NabiNya,

terus mencari kemegahan dan keindahanNya dalam segala ciptaanNya,

hingga benar-benar mampu 

memuji KeagunganNya,

berterima kasih pada kemurahanNya.


Hingga saat harus pindah alam,

tak ada yang perlu diragukan dari keistiqomahan anak-anaknya menjalankan semua itu.


Semoga berhasil.


Wa lLoohu a'lam

Bandung, 7 Selo 1442H

alfaqir

Kamis, 10 Juni 2021

DZIKR, SYUKUR, MELAYANI

 Tafakur Jumat


RosululLoh saaw menggandeng tangan Mu'adz, dan berkata: 'Yaa Mu'adz, demi Alloh aku mencintaimu. Kuwashiyatkan padamu Yaa Mu'adz, jangan tinggalkan doa tiap selesai sholat : Alloohumma a'inniy 'alaa dzikriKa wa syukriKa wa husni 'ibaadatiKa.

Mu'adz mewashiyatkan pada tabi'in shahabatnya, tabi'in mewashiyatkan pada tabi'i tabi'in shahabatnya. 

(HR Abu Daud dari sanad beliau hingga Mu'adz)


Kudengar hadits ini dari seorang Khotib di Uninus Bandung.

Beliau sampaikan ini tidak hanya sekedar silsilah hadits, namun ada silsilah mahabbah, rantai cinta yang nyambung hingga RosululLoh saaw melalui Mu'adz ra.

Beliau sampaikan, "Jamaah, saya dapat hadits ini dari guru saya.

Guru saya menyampaikan pada para santri : Wahai para santri, demi Alloh aku mencintai kalian. Jangan tinggalkan doa ini tiap selesai sholat.

Maka saya tirukan guru saya: Wahai jamaah, demi Alloh aku mencintai kalian. Jangan tinggalkan doa ini di setiap kali sholat."

Ada getaran haru mendapat silsilah mahabbah dari Sang Khotib itu.


Kuulangi penyampaian hadits ini di jama'ah masjid dengan redaksi yang sama.

Agar jama'ah dapat silsilah mahabbah.


Dan kuulangi pagi ini di anggota group ini.

Demi Alloh aku cinta kalian. Jangan tinggalkan doa itu tiap selesai sholat.


*

Terjemah itu adalah

Yaa Alloh, bantu aku mengingatMu, 

dan bersyukur padaMu,

dan mengabdi terbaik padaMu.


Awalnya DIA Sendirian

"bersama" Seluruh Nama IndahNya.

Lalu DIA rancang apa saja yang akan DIA Cipta dan jalan cerita ratusan ribu Nabi hingga Muhammad saaw menjadi Utusan PamungkasNya untuk semua manusia ciptaanNya 


MengingatNya dapat bermakna mengingat semuanya itu.

Berangkat dari membaca ciptaanNya, melihat Nama IndahNya di ciptaan itu, mengagumiNya dalam semua ciptaanNya,

berterima kasih atas semua ciptaanNya itu,

dan berusaha mengabdi padaNya dengan pengabdian terbaik, dengan menyayangi dan berbagi pada ciptaanNya.


Jika Alloh membuatmu senang mengingatNya, ketahuikah, DIA mencintaiMu

Pesan Sayidina Ali kw.


Sholat 5x sehari, 

puasa 30 hari, 

zakat 2.5%

haji 1x seumur hidup.

Ada batasan  jumlah dalam amalan.

Kecuali dzikrulLoh dan sholawat, kata Syaikh Hisham Kabbani.


Dzikr yang benar akan menghasilkan syukur.

Syukur yang benar akan menghasilkan pelayanan.


Wa lLoohu a'lam

Bandung, 30 Syawal 1442H

alfaqir

Kamis, 03 Juni 2021

MOKSA - FANA - TAWADLU'

 Tafakur Jumat


Man tawaadlo'a lilLaahi darojatan, rofa'a lLoohu darojatan, hatta yaj'alahu fiy 'Illiyyin

Wa man takabbaro 'ala lLoohi darojatan wadlo'a lLoohu darojatan, hatta yaj'alahu fiy asfala ssaafiliin

(HR Imam Ahmad dari Abu Sa'id AlKhudry)

Siapa tawadlu' karena Alloh 1 derajat, Alloh angkat 1 derajat, hingga mencapai maqom 'Illiyyiin.

Siapa takabur atas Alloh 1 derajat, Alloh turunkan 1 derajat, hingga mencapai Asfala ssaafiliin.


---


Tetangga kita yang Hindu punya istilah moksa

lenyap jasmani & ruhani menghadapNya.

Prabu Joyoboyo Kediri diyakni menghadapNya dengan moksa.


Nabiyulloh Idris as,

Nabi Ilyas as,

Nabi Isa as,

ke syurga/langit menghadapNya jasmani dan ruhani.


Para murid sufi belajar fana.

Tidak ada aku.

Hanya Tuhan yang ada.

Mencapai titik puncak perjalanan spiritual seperti itu tidak mudah.

Terlalu banyak ciptaanNya yang menarik perhatian, 

yang mempesona,

menghentikan perjalanan mencariNya.


Salah satu cara fana, adalah seperti petunjuk Kanjeng Nabi saaw di hadits tsb.

Belajar tawadlu.

Belajar merendah.

Tiap hari.

Meratakan dahi dengan tanah.

Setidaknya dalam sujud 17 rokaat x 2 sujud.

34 sujud.

Dan merasakan tiap kali sujud itu kita ini debu belaka.


Bayangkan misalnya ruh kita bisa mi'roj saat sholat.

Mencapai bulan.

Melihat badan yang sedang sujud.

Dalam perjalanan mi'roj ke atas, nampak badan terus mengecil.

Lihat badan yang sujud

di suatu mesjid

di suatu RT

di suatu RW

di suatu desa

di suatu kecamatan

di suatu kabupaten/kota

di suatu provinsi

di suatu pulau

di suatu negara

di suatu benua

terus ke atas 

sampai bulan.

Melihat bumi.

Bukankah kita debu belaka?


Belum lagi jika ruh bisa terus naik.

Dekat matahari.

Melihat semua planet.


Terus jalan-jalan dari satu bintang ke bintang lain.

Hingga pusat galaksi Bima Sakti.

Masih nampakkah badan yang sedang sujud itu?


Terus jalan-jalan lagi.

Dari galaksi Bima Sakti ke Andromeda,

ke galaksi-galaksi lain?


Terlalu BESAR 

DIA SWT

Pencipta Alam Semesta ini untuk dibayangkan.


We are nothing

HE is Everything

Dengan setiap tajalliNya

melalui tiap Asmau lHusnaNya

dalam tiap ciptaanNya.


AlLoohu Akbar .....

Subhaana Alloh....

sebanyak ciptaanNya

sebanyak kata KUN-Nya

sebanyak yang membuat Nya ridlo.


Jangan berhenti jadi debu.

Sesungguhnya lebih banyak kandungan air dalam tubuh kita.

Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Jika ada cara untuk merendah dari tiap ciptaanNya, merendahlah.

Agar ada ilmu dan rahmah mengalir dari tiap ciptaanNya.


Aah, tak perlu malu tidur beralas blarak,

beratap langit,

berbantal batu,

berbaju selembar,

makan minum seadanya,

dengan peralatan paling sederhana.

Bahkan andaipun tanpa sendok untuk makan,

atau gelas untuk minum,

pakai tangan pun jadi.


Para murid thoriqot Sadzaliy perlu melalui itu setahun di tahap awal tirakatnya.

Untuk dilatih terus oleh gurunya di tahap-tahap berikutnya dengan pengalaman2 spiritual lainnya.


Wa lLoohu a'lam

Bandung, 23 Syawal 1442H

alfaqir

MENGAPA HAJAR ASWAD ITU KINI HITAM

 Tafakur jumat

(yang tertunda)


Ibrahim as sedang mbangun Ka'bah.

Tinggal kurang 1 "bata" lagi.

Ismail diminta mencari.

Dapat.

Bagus sekali.

Seperti akik, lebih besar sedikit dari kepala.

"Bagus sekali. Darimana ini?", tanya Ibrahim.

"Ada seseorang yang memberi."


Batu itu dari syurga.

Batu itu ikut menyaksikan perjanjian ruh pada Alloh.

"A lasTu bi Robbikum?"

"Balaa syahidnaa".

Dibawa Jibril untuk menghias Ka'bah.

Batu itu wangi, bawaan wangi syurga.

Siapa saja yang naik haji, apalagi bisa menyentuh dan menciumnya seperti yang dicontohkan Kanjeng Nabi saaw,

batu itu akan menjadi saksi, siapa saja telah mengunjunginya, dan

melantunkan talbiyah,

memenuhi janji balaa syahidnaa nya dulu.


*


Sekali waktu

Saat Muhammad masih remaja

Ka'bah dilanda banjir.

Berantakan.

Masyarakat membangunnya lagi.

Tinggal urusan menaruh kembali batu "akik" sekepala itu.

Geger, rebutan.

Ada yang menengahi.

Siapa besok pagi  datang paling awal ke sini, dia paling berhak menaruhnya.


Esok paginya mereka berlomba datang pagi sekali.

Sudah ada yang mendahului.

Remaja Muhammad.

Semua sepakat, dia yang berhak menaruh batu akik sekepala itu.

Apa yang Muhammad lakukan?

Beliau ambil kain lebar.

Batu itu diletakkan di kain itu.

Semua ketua Kabilah diminta memegang sisi-sisi kain.

Lalu bersama membawa batu itu dekat tempatnya.

Lalu Muhammad meletakkan batu itu di tempatnya.

Semua puas.

(Siapa mengajari remaja Muhammad cara ini?

Padahal belum jadi Nabi?

Ya. Beliau sudah punya akhlaq agung bahkan sebelum jadi Nabi)


Umar bin Khattab naik haji.

Ikutan cium Hajar Aswad.

"Kamu batu. Andai tidak kulihat Nabi menciummu, aku tak kan menciummu."

Mungkin Umar belum tahu riwayat batu itu.

Andai tahu, kalimatnya mungkin beda.


Wa lLoohu a'lam

Bandung, 11 Syawal 1442H

alfaqir

Jumat, 28 Mei 2021

Benarkah Mayit disiksa karena tangisan keluarganya?

 Tafakur Jumat


Yu'adzdzibu lmayyitu bi bukaa'i ahlihi 'alaihi

Disiksa mayit karena tangis keluarganya atasnya.

(Riwayat Umar bin Khattab)

Disebutkan di shahih Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Imam Ahmad, Nasai, Ibnu Majah).


Hadits ini tidak apa adanya. Bersyarat.


Yaitu ketika si mayit menyuruh keluarganya menangisinya ketika mati.

Atau si mayit tidak pernah mengajarkan ikhlash pada keluarganya terkait taqdir maut.

( tawashow bi shshobr)


Jika keduanya tidak ditemukan pada si mayit,

in syaa Alloh tidak terkena siksa.

Meski keluarganya menangisinya.


Ayat 29 AdDukhan menyebutkan. 

Langit bumi tidak menangisi matinya Fir'aun.

Mafhum mukholafahnya, pemahaman sebaliknya, 

langit bumi menangisi mautnya orang shaleh, pengikut setia Musa atau Para RosulNya yang lain.


Andai terbuka kasyaf, penglihatan batin, mungkin keluarga/pelayat dapat merasakan tangis haru langit dan bumi atas mangkatnya orang shaleh.

Dan itu berenonansi pada dirinya.

Ikut menangis.

Mayit, in syaa Alloh tidak disiksa karena ini.


Maut, sesungguhnya saat yang membahagiakan.

Karena telah berhentinya bagi si mayit untuk melakukan kejahatan.

(Gus Baha)


Maut, juga saat membahagiakan.

Sudah selesai - istirahat - dari masalah duniawi.

(Suatu hadits syarif).

Jadi, andai pun harus menangis saat ada keluarga wafat, seharusnya tangis bahagia, karena bahagianya si mayit.


Wa lLoohu a'lam

Bandung, 16 Syawal 1442H

alfaqir